CERPEN ” TAKUT AROMA KOPI YANG SAMA ”  

Aku menjauh dari aroma kopi yang sama persis dengan aroma kopi yang beberapa tahun lalu yang sempat ku nikmati dan terhirup oleh hidungku. Aku mencoba melangkah mundur tanpa bersuara dengan cara melangkah secara diam-diam sambil menutup mata, hati dan hidung ku. aku mengasingkan diri tanpa ingin menghirup aroma kopi itu lagi. setelah beberapa menit langkah ku menjauh aku duduk sambil mengetupkan kedua tanganku agar membentuk corong di sekitar mulutku. aku berteriak sekeras-kerasnya : TUHAN aku takut untuk memulai kembali, aku takut hal yang sama terjadi denganku

“ Apa yang kamu takutkan Gio, lupakan kejadian yang sudah lama, kamu harus memulai cerita kehidupan baru.” Seorang pria dengan wajah berkilau dan aura berwibawa tiba-tiba melontarkan kata yang ribuaan kali ia putar ulang di hadapanku, sambil memegang dan meremuk bahu kananku yang terhempas rapuh dengan lemak padat yang melekat pada tubuh bersisi dan berkulit putih yang sedang berdiri di sebuah ruangan  teras gedung tinggi di lantai 20 dengan mata tertancap tajam memandangi sinar bulan purnama yang begitu sempurna menyinari Kota Sintang.

“ Kamu Ga, aku gak bisa Ga, semua kejadian di masa lalu membuatku terlalu remuk dan tak berdaya, aku lemah Ga, lemaahhh. aku tak memahami langkahku sendiri bahkan untuk memulai kehidupan baru aku terlalu takut, karena lembaranku di masa lalu sudah banyak tercoret tinta hitam yang menguasi  benakku. Yoga kamu sahabat yang selalu ada di sisiku, kamu tahu semua cerita kehidupanku dari masa kecil sampai detik ini. Ga bagaimana caranya agar aku bisa melupakan kejadian yang dahulu dan membuka lembaran kehidupan yang baru.????. aku takut dengan aroma kopi yang sebelumnya pernah aku nikmati.” Aku sudah dikuasi rasa takut yang bergejolak dan bergelombang dalam tubuhku, aku tak kuasa berdiri serta tak sanggup menyembunyikan wajah basah dan kusut di hadapan sahabatku Yoga Prastya. Aku menjatuhkan tubuhku yang tak berberdaya dan duduk sambil mengusap kepalaku pulahan kali dengan kasar dengan kepala tertunduk dan di saksikan terangnya bulan.

“ Gio kamu harus membuka kisah cinta yang baru, serta membiarkan seorang bidadari cantik tinggal di dalam hidupmu. agar kamu bisa kembali menikmati aroma kopi yang baru dan berbeda. secara perlahan kamu akan lupa akan aroma kopi di masa lalu yang pernah kamu hirup dan kamu telan wanginya yang berduri.” Yoga lagi-lagi mengeluarkan senjata keahliaannya yaitu kata-kata bijak untuk aku Gio Sunaryo sahabatnya. Ia berkata sambil membuka lebar kedua tangannya, dengan rentangan tangan yang sempurna di atas besi putih.

“ Sudahlah Yoga kita sudah terlalu dalam membahas kisah hidupku, lebih baik kita kembali kerumah, lagian kamu pasti sangat merindukan istrimu dan putra tunggal sang buah hatimu di rumah. Aku juga pasti di cari sama Mama dan Papa. Terima kasih Ga kamu sudah memberikan senjata keahlianmu.”  Aku  dan Yoga pun beranjak pergi meninggalkan gedung tinggi yang telah banyak menjadi saksi kisah persahabatan kami dari awal membuka mata dan sampai maut menjemput.

“ Gio,,,ooo, jangan lupa besok hari minggu Ibadah, kamu memimpin pujian dan jangan lupa berdoa sama Tuhan agar dapat jodoh yang terbaik.” Yoga memanggilku yang baru saja membuka pintu mobil sport milikiku yang bercat merah, selain sebagai sahabat yang selalu ada di sisiku. Yoga juga sehabat yang tidak pernah lupa untuk mengajakku untuk pergi ke gereja setiap hari mingggu.

“ Iya Ga, jangan lupa doakan yang terbaik juga untuk sahabatmu yang malang ini, agar sahabatmu menjadi orang yang paling bahagia di dunia.” Jawabanku atas teriakkan Yoga yang ku jawab bergurau dan tidak terlalu serius.

Setibanya di rumah, tak jauh dari yang ku duga pasti Mama dan Papa sedang menunggu kedatanganku di rumah, seperti biasa mereka pasti menungguku untuk makan malam bersama. Tentunya mereka akan bertanya padaku dengan pertanyaan yang sama. Yang selama ini aku berusaha menghindari pertanyaan itu. Saatku tengah terdiam membuka pintu rumah dan melangkahkan kakiku dengan perlahan-lahan seakanku takut untuk membangunkan binatang buas.

“ Gio kamu dari mana ? Papa sama Mama sudah lama menunggu kamu untuk makan malam bersama-sama di rumah. Tapi setelah pulang dari kantor tadi siang kamu baru pulang kerumah jam segini. sayang kamu harus jaga kesehatan kamu.” Mama memarahiku  sambari dengan jari penunjuknya  menunjukan sebuah jam dinding yang tertempal rapi di sudut ruang tamu dengan jarum jam yang sedang menunjukan pukul 08.30 Wib. Amarah Mama yang ia tunjukkan bukan amarah benci namun amarahnya adalah amarah kasih dan sayang.

“ Maaf Ma, Gio habis ketemu sama Yoga, ya Mama taukan kalau Gio sudah ketemu sama  Yoga waktu satu hari di perlambat satu bulan pun tidak akan pernah cukup untuk kami memperbincangkan hal-hal konyol menurut orang lain namun berarti bagi kami. Papa kemana Ma ?.” aku sengaja bertanya untuk mengalihkan pertanyaan Mama yang berikutnya sebelum ia bertanya, panjang kali lebar dan kali tinggi kepadaku,

“ Iya, tapi lain kali kalu kamu pergi,baik itu tempat Yoga atau pun tidak sempat balik kerumah, kamu harus menghubungi Mama atau pun Papa. Papa ada di ruang kerja. Mama panggil Papa dulu, kamu langsung ke ruang makan. Nanti Mama sama Papa nyusul. Papa ada yang ingin di sampaikan sama kamu penting sekali.” Mama berkata seakan membuat tubuh ku bergetar, matanya sama dengan mata yang selama ini hadir dalam pertanyaan yang ribuan kali ku dengar. Pertanyaan yang selama ini tak mampu ku jawab. Bahkan  Ia atau tidak aku tak bisa memastikannya selama ini.

“ ya Ma,tapi Papa mau sampaikan apa Ma ? ” aku bertanya sama Mama dengan rasa takut. Namun pertanyaanku tak mendapat balasan apapun karena Mama memang sudah memasuki belokan ruangan di lantai dua, yaitu ruangan kerja papa.

Aku duduk berdiam tanpa bersuara, namun gelisah serta berjuta tanya di dalam jiwa dan hati. Suasana bahagia berubah menjadi duka yang penuh lara. Senyum bernyawa yang ku rasa kini bergejolak dan berubah seketika menjadi tawa yang tak bahagia. Gesekan kedua telapak tangan yang ku gosok ratusan kali pun memanas. Kedua telapak tangan yang ku rapatkan menjadi satu dan terus ku tiup sampai bom yang saat itu kurasa akan meledak.

“ Dari mana kamu Gio ?” suara berat, kasar, dan parau melintasi telingaku dengan halus tapi menyeramkan seakan aku berada dalam suasana kuburan tua.

“ Baru pulang dari tempat Yoga Pa, soalnya Gio sudah lama tidak  bertemu dengan Yoga.” Aku menjawab Papa dengan lidah yang sangat kaku dan suara sedikit gemetaran.

“ Oohhhh. Tapi kenapa kamu tidak menelpon Papa atau pun Mama ? Papa melontarkan bertanya sambil memasuki beberapa suap nasi ke dalam mulutnya.

“ Hanphone Gio habis baterainya Pa.” Jawabku dengan singkat dan kembali menyantap makanan di piringku.

Setelah beberapa menit suara di antara kami pun sudah mulai hening. Tiada satu pun di antara kami bertiga yang bersuara selain suara tarikan nafas hidung, kunyahan kami serta sentuhan sendok dan garpu yang menggendangi piring kami masing-masing. setelah aku selasai makan, bahkan aku baru saja ingin mengambil sehelai tisu di meja makan untuk mengeringkan basah di bibirku yang baru saja selesai menyantap makanan. Belum hitungan ke-7 detik jarum detik jam berputar. tiba-tiba aku di lontarkan Papa pertanyaan yang menyayat hati dan rasa tergores sembilu di jiwa.

“ Gio, kapan kamu akan berencana menikah ?” Papa berkata sangat serius kepadaku, sebelumnya ia sudah beberapa kali bertanya kepada ku hal yang sama persis dengan hal yang ia tanyakan pada ku saat ini. Namun wajahnya sangat berbeda dengan wajahnya yang dahulu meskipun pertanyaannya sama. Aku mendengar dari pertanyaannya, Papa sangat mengharapkan aku untuk memberikan jawaban yang pasti.

“ Hemm, Nikah. Pa Gio tidak ingin suatu pernikahan menjadi bahan percobaan dan Gio tidak ingin gagal dalam pernikahan Pa.Gio juga harus mencari wanita yang tepat untuk Gio. Gio belum menemukan…”  perkataan yang ingin ku ucapakan terpotong karena Papa memotong perkataan ku dengan tegas dan suara sedikit lantang namun mengalir lembut.

“ Gio, Papa sudah sering memberikan pertanyaan yang sama, kamu sampai sekarang masih tetap memberikan jawaban yang sama dengan Papa, dengan alasan belum menemukan wanita yang tepat. Papa sama Mama sudah tua, kamu juga sudah pantas menjadi seorang suami dan ayah. Kalau kamu selalu memberikan jawaban seperti ini, Papa terpaksa akan menjodohkan kamu dengan gadis pilihan Papa.” Papa berkata membuat kehidupanku dan badanku seakan sembiluan.

“ Apa Pa, dijodohkan. enggak Pa Gio tidak akan pernah menerima perjodohan walaupun gadis pilihan Papa secantik bidadari.” Aku berusaha keras menolok apa yang Papa rencana karena aku sangat tidak ingin menikah karena suatu perjodohan.

“ Gio, tolong kamu pahami Papa dan Mama. Papa dan Mama sudah tua, kami sangat ingin melihat kamu menikah dan kami sangat ingin menimang seorang cucu sebelum kami pergi jauh dan kekal dari hadapan muka bumi.” Papa berkata dari tempat duduk sambil mengetupkan kedua tangannya agar membentuk corong di sekitar mulutnya. Permohonaan yang papa ucapkan menyembilu raga dan mengalirkan bendungan Mama yang terpendam.

“ Pa, Gio akan menuruti semua perkataan Papa tapi tidak untuk rencana perjodohan. Papa seharusnya juga harus memahami Gio. Kejadian sewaktu Gio masih kuliah tantang kisah cinta yang Gio bina, tentang rumah tangga yang sudah Gio rencanakan dari pernikahan sampai menjadi seorang ayah. Wanita yang Gio cinta di hadapan Gio telah merengut nyawa seorang wanita yang sangat Gio hormati setelah TUHAN yang Gio yakini. Ia sanggup melakukan hal keji dan seperti bintang hanya karena sebuah harta yang kita miliki. Bagaimana Gio bisa menerima wanita begitu mudah di hadapan Gio. Papa juga ingat bagaimana sikap Gio terhadap Mama Lina pertama kali hadir di rumah ini. Bagaimana reaksi Gio saat mendengar kabar Papa akan menikahi Mama Lina yang sekarang menjadi Mama yang selalu ada di samping Gio yang sekarang menjadi wanita yang Gio hormati setelah Mama yang melahirkan Gio.” Aku tak kuasa meronta karena sembilu menyayat hatiku, aku duduk dengan lemah tak berdaya. Aku sangat berkeinginan untuk mewujudkan imipian Papa dan Mama tapi luka yang kurasa terlalu dalam untuk di hapus dengan senja dan bulan purnama. Mama pun menghampiriku dan meremas bahuku dengan lembut.

“ Gio, Papa sangat memahamimu lebih dari yang kamu pahami, kebahagiaan Papa berada pada kebahagiamu. Saat kamu bahagia Papa jauh lebih bahagia dari kamu, saat kamu tersayat sembilu Papa jauh lebih dahulu tersayat sembilu. Papa melakukan semua ini hanya untuk kamu agar kamu bisa membuka hati kamu untuk wanita yang akan kamu jadikan istrimu yang nanti akan menjadi ibu dari anak-anakmu. Papa melakukan ini agar kamu bisa melupakan kejadian yang beberapa tahun yang lalu.

“ Iya sayang apa pun yang menjadi keputusan kamu Mama sangat menghargai hal itu karena kamu orang yang sangat berarti bagi Mama. kamu dan Papa adalaha harta yang paling berharga bagi Mama.” Mama orang yang selalu hadir dalam hidupku dan merasuki mimipi tedurku setiap saatku memejamkan mata.

“ Terima kasih Ma, Pa. Gio janji dalam waktu dua minggu jika Gio tidak membawakan seorang gadis yang menjadi calon istri Gio. Gio siap di jodohkan dengan gadis pilihan papa.” Aku berkata dengan suara berat yang sangat untuk di keluarkan apalagi hal ini merupakan keputusan yang berat bagiku.

“ Apa ? “ jawab Papa dan Mama serempak mendengar keputusanku, seakan kebahagiaanya yang telah lama hilang  sudah di temukan kembali. Tarikan kedua garis di bawah hidung tepat di pipi Papa dan Mama. Garis senyum yang membuatku bahagia walaupun aku mendapatkan beban baru. Yaitu harus mencari seorang gadis dalam waktu dua minggu yang sangat singkat bagiku. “ kamu sudah menerima keputusan Papa ?” tanya Papa seakan tak percaya akan keputusanku.

“ Iya Ma, Pa. Gio sudah memikirkan keputusan Gio dengan baik. Gio ke kamar dulu ya Ma, Pa. Gio sudah mau tidur, soalnya besok Gio memimpin pujian di gereja, besok kita ada kedatangan pendeta dan sekaligus dosen dari STT Eklesia pontianak. kalau Gio lambat bangun, Mama bangunin Gio ya jam 06.00 Wib soalnya Gio harus datang awal kegereja.” Akupun bereanjak pergi ke kamarku yang menjadi tempat pergulatan sedih dan  bahagiaku, ruangan tempatku bermimipi dan berangan-angan akan kebahagianku.

Minggu, 20 febuari 2016 hari minggu atau hari sobat adalah hari yang selalu aku nanti dari 7 bersaudara. Entah apa yang tengah ku rasa aku pun tak memahami tapi aku mengetahui Tuhan pasti punya rencana dari apa yang Dia takdirkan untuk ku. Selama aku hidup didalam Tuhan dan berserah padanya maka ia selalu ada untuk umatnya yang percaya. Pada hari itu aku sangat bersemangat untuk pergi ke rumah Tuhan yang begitu menyejukkan di tengah kemarau panjang. Entah apapun yang membuat aku bersemangat tapi itulah kuasa Tuhan. Aku pun berangkat awal kegeraja sesuai jadwal yang sudah ku tentukan sebelumnya.

Setelah selesai ibadah raya minggu, 20 febuari 2016. Aku pun berbincang dengan gadis yang tak pernah enyah ku pandang. Walaupun hanya dengan lirikan sekejap atau memandangnya tetap saja ku melihat kesempurnaan serta kilauan putih pun terpancar dari tubuhnya. Setelah memiliki hubungan dekat, bahkan lebih dekat dapat di katakan dia seorang gadis yang akan ku kenalkan pada Papa dan Mama sesuai perjanjianku pada mereka. Aku telah memilih gadis itu sebagai pacarku yang rencana akan ku nikahi secara resmi di hadapan Tuhan dan ciptaan-Nya.

Pdt. Anisa ulandari M.Pdk  seorang gadis yang akan ku nikahi pada tanggal 20 juni 2016, namun sebelum pernikahan. kami dari kedua belah pihak keluarga memiliki kesepakatan bertunangan terlebih dahulu, sebelum resepsi pernikahan kami berlangsung. Namun di tengah pertunangan ku dengan Nisa bahkan mendekati hari pernikahan. aku membatalkan pernikahan dengan alasan bahwa Nisa memiliki banyak kesamaan hobby, dan makanan kesukaan, bahkan kebiasannya sama dengan wanita yang pernah sempat ingin ku nikahi yang merengut nyawa sang Ibu tercinta.

Aku tak sanggup hal yang sama akan terjadi pada keluargaku. rasa trauma pada masa laluku membuatku terlalu cemas untuk memulai hal baru, sehingga setiap langkah kaki ku kedepan, aku selalu melihat langkah kaki ku yang dahulu. Aku tak ingin mengalami hal yang sama, aku terlalu takut dengan rasa yang pernah akau rasakan.

Kopi yang merupakan teman setia seorang laki-laki namun kopi itu yang justru sangat aku takuti. pristiwa kopi yang telah merengut nyawa, membuat aku takut meminum aroma kopi yang sama. Jangankan meminum kopi itu mencium aromanya saja, aku tidak berani. aku takut membuka pintu hati bahkan menarik nafas saja membuat seluruh tubuhnya gemetaran. Aku yang sekarang sangat takut memilih wanita dalam hidupku. Aku takut memilih cinta sejati yang suci namun akan berubah menjadi abu dimakan api. Aku yang pernah menjadi penikmat dari cinta suci yang berduri didalam hati. Aku takut menemukan wanita yang sama, karena banyak pristiwa nyata karena ulah cinta, yang mencabut nyawa dengan cara sederhana namun tak berlogika, Mengakhiri hidup seakan pintu sudah tertutup.

 

Selesai

  Pungli Alitopan adalah mahasiswa aktif STKIP Persada Khatulistiwa Sintang. Jurusan S-1 Pendidikan  Bahasa dan Sastra Indonesia. Pria kelahiran Senangan Besar, 05 Januari 1996, yang memiliki hobby Menulis, dan Teater Pernah bersekolah di SD Negeri 16 Senangan Besar ( 2004-2009 ) SMP Negeri  1 Ketungau Tengah ( 2010-2012 ), SMA Negeri 1 Ketungau Tengah ( 2013-2015 ) sekarang merupakan mahasiswa aktif STKIP  Persada Khatulistiwa  Sintang Jurusan S-1  Pendidikan  Bahasa dan Sastra Indonesia. Anda dapat berkomunikasi dengan Pungli Alitopan di MeSosd. Facebook: pungli.alitopan.3@facebook.com, Email :pungli101@gmail.com, Instagram: @punglialiopan.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *