Nusantara Indah dan Persada Khatulistiwa di Angka 3212

Renungan di HUT Persekolahan Nusantara Indah
dan STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Tulisan ini lahir dari sebuah kegundahan batin dengan sebuah rasa empati sekaligus nada cemas seperti perasaan para mahasiswa dan pemerhati pendidikan yang bersuara lantang di kantor DPRD Sintang beberapa hari kemarin. Sedikit banyak suara dan tuntutan sudah terekspose di media sosial. Melalui wakil rakyat dan pemerintah daerah suara itu kiranya juga bisa diteruskan lebih nyaring lagi. Meskipun sedikit skeptis, dalam kalkulasi matematis kiranya didengarkan, dan jika tidak maka, harus terus diulang karena butuh nada yang lebih harmonis untuk sampai ke tujuan kita. Pemikir Harold O. Rugg, (1960) pernah berucap, “tidak ada jalan yang mudah untuk memasuki zaman baru. Di persimpangan tempat kita berdiri, hanya ada jalan yang sulit bagi pendidikan dan terutama untuk menciptakan kesepakatan.”

Guru Garis Depan (GGD) tidak saja sebuah frasa tetapi sebuah mimpi penuh optimisme untuk perbaikan mutu dengan pasukan laskar-laskar sarjananya. Mereka adalah orang-orang muda terdidik yang digembleng kurang lebih 3 tahun dengan kecerdasan, kepintaran maupun setahun berada di wilayah 3T. Mungkin mereka bisa disejajarkan dengan pasukan khusus kopasus di angkatan darat yang memiliki kompetensi dan keahlian khusus untuk masalah yang khusus. Perspektif saya, GGD adalah bagian dari Nawa Cita Presiden Jokowi “membangun dari pinggiran”. Problemnya, tidak cukup membangun jalan lintas perbatasan yang lebar, atau dikebut pembangunan fisik yang mentereng sebagai etalase perbatasan. Itu bagus, dan layak diapresiasi karena puluhan tahun sejak merdeka wilayah perbatasan agak diterlantarkan. Perbatasan dan pedalaman kurang dilirik meskipun hasil alamnya sebagian dibawa pergi untuk jalan tol perkotaan dan megahnya pencakar langit metropolitan, sementara anak-anak daerah harus bertarung lumpur menuju sekolah.

Manusia muda perbatasan, terdepan, terluar dan tertinggal sebenarnya punya kemampuan dan potensi mumpuni. Mereka hanya perlu didandan dengan kemampuan daya saing, disentuh dengan skil teknologi dan layanan pendidikan setara anak kota supaya tidak dibilang tertinggal. Anak-anak muda daerah dengan kemampuan ekonomi seadanya berjuang menaikan level intelektual dan skill mereka di beberapa perguruan tinggi kota-kota kecil seperti Sintang. Mereka punya mimpi untuk membangun daerahnya dan bisa bangga sebagai putra daerah, warga Indonesia yang tak kalah pintar dari saudara tetangganya di negeri Jiran. Anak-anak-anak muda ini berada di jalan sulit pendidikan kita tetapi mereka harus terus bicara sebab bicara adalah “medium yang membuat mereka menjadi manusia” (Neil Postman, 1931).

Kebijakan GGD sudah berjalan dan kita menunggu seberapa ampuh program ini merefleksikan dan menjawab solusi kesenjangan mutu pendidikan di wilayah 3T termasuk sektor Timur Kalbar. Tuntutan sudah disuarakan dan saya tidak ingin membahasnya. Ada baiknya, kita cooling down sambil menunggu respon pemerintah dan pemangku kebijakan yang lebih kompeten. Tugas kita menjaga nalar dan suara kritis agar kita tidak diam sebab kebijakan pendidikan adalah sebuah proses politik. Politik yang berpihak pada pendidikanlah yang mampu mengubah wajah pendidikan itu sendiri. Kata-kata Mikael Oakeshott (1992) bisa kita pegang untuk menjaga agar nalar dan suara kritis itu tidak padam untuk aksi-aksi berikutnya. ”Pemerintah moderen tidak tertarik pada pendidikan, mereka hanya tertarik mengadakan semacam sosialisasi pada fragmen-fragmen yang masih berjalan pada kegiatan pendidikan.”

Fokus saya adalah kembali ke judul “Nusantara dan Persada Khatulistiwa di Angka 3212.” Tiga puluh dua tahun sudah persekolahan Nusantara Indah hadir memberi warna Indah dalam dunia pendidikan Sintang. Kehadirannya dulu tentu tidak semudah saat ini dalam tangkapan indera kita. Beberapa tokoh yang layak disebut dan diapresiasi seperti “Dr. Lukman Riberu, Drs. Rafael Beding, Andreas Sangu, S,Ag, Bapak Suratman” dan para penjasa lainnya adalah wajah muda kala itu yang punya mimpi mengubah dunia pendidikan melalui sekolah. “Susah dan sulit memulai, dikejar bahkan terancam nyawa” itulah sepenggal kisah mereka yang pernah diceritakan. Namun ketakutan itu berlalu dan semuanya telah menjadi kenangan Indah, seindah namanya nusantara indah.

Pendekatan pendidikan kita masih dengan pola segmentarian, pragmatis ala sepak bola Indonesia dengan sistem naturalisasinya. Siapa yang hebat, punya skill lebih direkrut jadi pemain dalam waktu pendek. Aroma semacam ini rasanya terjadi juga dalam kebijakan pendidikan. Putra-putra daerah sebenarnya memiliki kemampuan mumpuni, tidak kalah dengan anak-anak dari luar. Mereka hanya butuh kesempatan, sedikt rasa percaya diri dengan polesan pendidikan yang lebih memadai seperti pasukan GGD. Kemampuan adaptasi kultural dan navigasi alam Kalimantan adalah darah daging mereka. Yang dibutuhkan justru sebuah orientasi pemberdayaan kapasitas berbasis sumber daya manusia daerah. Karena itu, sangat dimungkinkan bahwa separuh pasukan GGD adalah putra-putra daerah agar kemajemukan dan kohesi sosial terpelihara untuk Indonesia di garda terdepan wilayah perbatasan. Jika tidak, GGD justru membuat garis pinggir kesenjangan yang lebih panjang dan memantik potensi konflik sosial di masa depan. Gaji dan tunjangan besar bagi GGD menciptakan kecemburuan sosial di kalangan putra daerah yang juga sarjana. Bahkan mereka sebagian sudah melayani masyarakat sebagai guru kontrak dan honorer dengan gaji yang kurang layak.

Seiring dengan peringatan HUT Nusantara Indah dan STKIP Persada di angka 3212, patut disampaikan rasa hormat kepada para guru karena mereka adalah sosok yang membuka cakarawala dan alam sadar kemajuan anak-anak pelosok. Rasa hormat dan bangga kepada semua guru dimanapun mereka berada, yang sampai hari ini masih setia mengabdi, menghabiskan waktu hidupnya untuk anak-anak di sektor Timur Kalbar. Di hati kecil mereka pasti ada doa “ketika generasi ku berlalu, anak-anak ini bisa meneruskan estafet dan menggapai masa depannya secara gemilang.”

Apa daya, regulasi global yang diadopsi negara dengan berbagai standar seperti akreditasi institusi, program studi, uji kompetensi menyeret mereka pada pusaran persaingan yang sulit dimenangkan. Bukan karena mereka tidak bisa tetapi belum dibiasakan. Mungkin juga pemerintah daerah tidak punya banyak alternatif untuk mengubah regulasi pusat meskipun palu otonomi ada di tangan mereka. Inilah tantangan kekinian untuk pendidikan dan persekolahan saat ini.

Menjadi tuan atau penonton, Ini pilihan yang harus diambil dengan langkah berani dan konsisten. Para pendiri, pimpinan badan penyelenggara dan pimpinan STKIP Persada Khatulistiwa bersama jajaran dosen dan segenap civitas akademika di moment ulang tahun kembali lagi memperkuat komitmen mewujudkan tujuan yang telah dirintis 3212 tahun silam. Tidak hanya melayani pendidikan tetapi juga menghadirkan pendidik berkualitas. Di angka 3212 tahun sudah tercatat jutaan siswa dan ribuan sarjana yang tersebar diberbagai wilayah dengan aneka profesi dan perannya.

Hadirnya kedua lembaga pendidikan ini merupakan modal sosial yang besar bagi masyarakat dan pemerintah daerah di sektor Timur dan Kalbar umumnya. Untuk itu perlu kolaborasi yang nyata antara perguruan tinggi dengan pemerintah daerah, sekolah-sekolah, perusahan dan masyarakat bergandengan tangan membangun tidak hanya dari pinggiran tetapi dengan manusianya. Kerja sama dan pelibatan peran kampus harus semakin nyata dengan sinergisitas agenda maupun program-program pemerintah daerah bagi kemajuan Sintang sebagai poros peradaban di sektor Timur Kalbar dan wilayah perbatasan dengan negara-negara tetangga.

GGD hanyalah satu fenomena kecil yang menjelaskan ragam problem pendidikan daerah yang menuntut kerja nyata dengan orientasi yang jelas bagi pembangunan manusia di daerah. GGD menantang semua perguruan tinggi di daerah, pemerintah daerah, dinas pendidikan, semuan institusi dan instansi, para wakil-wakil rakyat dan masyarakat luas untuk refleksi diri, re-orientasi visi, re-produktif program-program maupun target-target masa depan pendidikan di daerah. Mendidik masa depan tidak sekedar sebuah profesionalisme dengan tanda jadi seperti sertifikat profesi atau keahlian. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, bisa atau tidak bisa, kita harus bisa untuk memenangkan persaingan global.

Program Profesi Guru (PPG) sebagai salah satu karcis antrian untuk GGD memiliki banyak syarat sulit untuk kampus-kampus di daerah, apalagi berstatus swasta. Namun, konsistensi dan kerja keras dengan mimpi besar, STKIP Persada di angka 12 tahun hari ini memiliki komitmen untuk mengejar target itu. Beberapa prodi telah memiliki kualifikasi akreditasi B, di dukung kualitas dan kualifikasi dosen strata S2 dan S3, orang-orang muda, energik, penuh motivasi berkemajuan. Dengan fasiltas kampus dan perbaikan management tata kelola Perguruan Tinggi yang lebih baik memberi harapan besar bagi penyiapan tenaga pendidik berkualitas dari produk lokal Sektor Timur Kalbar. Untuk itu kerja sama, dukungan pemerintah daerah serta peran fungsi kritis masyarakat harus terus dikobarkan. “Pembuat kebijakan hendaknya mengubah orientasinya dari merancang kontrol menjadi pengembang kapasitas” (Linda D. Hammond, 1993), bukan membawa dari luar tetapi memulai dari dalam, tidak hanya dari pusat tetapi dimulai dari potensi dan kapasitas daerah.

Kohesi sosial semestinya dibangun dengan memberdayakan putra daerah tetapi tidak esklusif agar tidak lagi memperpanjang pola-pola tradisional peminggiran akibat tidak sungguh-sungguh membangun dari pinggiran. Yang membuat anak-anak menjadi pemain atau penonton adalah kita sendiri bukan orang lain atau pihak luar. Membangun pendidikan berkualitas adalah syaratnya dan lembaga seperti Nusantara Indah dan STKIP Persada Khatulistiwa dan semua lembaga pendidikan lainnya tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan riil pemerintah daerah dan pusat.

Akhirnya, pendidikan bukan sekedar mencetak barang jadi seperti produk pasaran yang sifatnya ekonomis. Pendidikan adalah jalan yang memungkinkan semua alternatif tersedia banyak bagi anak-anak untuk meraih masa depan. Kemampuan meng-update pengetahuan maupun memperbesar kapasitas keahlian dan daya saing adalah kunci pembukanya. Motto Non Scolae sed Vitae Discimus adalah acuan agar sekolah tidak sekedar sebuah proses belajar rutin mengejar nilai dan secarik ijasah melamar kerja. Belajar harus dimaknai lebih luas sebagai bagian integral dan hakiki dari kehidupan itu sendiri.Dirgahayu Persekolahan Nusantara Indah di usia 32 tahun dan terus berbenah untuk STKIP Persada Khatulistiwa di usia 12 tahun. Teruslah berpacu menjadi yang terdepan di sektor Timur Kalimantan Barat. Bersama yang muda kita bisa mengubah dunia!

Yogyakarta, 14 Oktober 2017
Dicky Daniel Tukan, SS.M.Pd
Dosen STKIP Persada Khatulistiwa sedang menempuh studi S3  di Universitas Negeri Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *