Berwisata dan Mengenal Budaya suku dayak

 

Tempat wisata memang incaran banyak orang dari berbagai daerah bahkan negara, secara khususnya wisata Bukit Kelam yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Selain sebagai batu terbesar di dunia Bukit Kelam juga mempunyai ciri khas tersendiri secara khususnya Desa Ensait Panjang yang berada dilereng Bukit Kelam, disini terdapat berbagai keunikan seperti rumah betang yang dilestarikan dari jaman dahulu yang berjumlahkan 25 kepala keluarga selain itu terdapat juga kerajinan tangan ibu-ibu Desa Ensait Panjang berupa syal, cupai dan kepuak(selimut) yang dibuat beragam bentuk sehingga memikat hati para pengunjung untuk membeli.

Jumat, 10 Oktober 2017 tim jurusan Bahasa dan Sastra Daerah beserta Jurusan Jurnalistik program studi Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Persada Khatulistiwa Sintang dan didampingi oleh beberapa dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia melakukan kunjungan guna untuk mengenal dan memperdalam pengetahuan mahasiswa tentang sastra daerah. Perjalanan yang sangat melelahkan karena harus melalui jalan berbatu dan perjalanan yang mengharuskan untuk terus memaksa gas motor untuk terus melaju agar tidak ketinggalan rombongan, tetapi sangat memberikan inspirasi dan pengalaman baru tentang bagaimana kelestarian budaya daerah yang harus dijaga baik itu lisan maupun tertulis. Dalam kegiatan kunjungan ini juga terdapat rasa kebersamaan antar mahasiswa dan dosen yang mendampingi karena harus bekerja sama dalam bergaul dan menghargai adat atau kebiasaan masyarakat di Ensait Panjang.

Kegiatan yang dilakukan dapat berjalan dengan baik, karena mahasiswa sudah mempersiapkan diri untuk menampilkan sastra daerah lisan yang mereka ketahui. Demikian juga tim jurusan Jurnalistik tidak ingin ketinggalan momen yang baru ini, kami menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan seorang nenek yang berusia 68 tahun, dalam kesehariannya nenek ini sebagai seorang penenun. Kami juga sempat bertanya bagaimana proses pembuatan syal dan hasil tenunan lainnya, dia menceritakan bahwa dalam pembuatan syal kecil khususnya membutuhkan waktu selama 2 sampai 3 bulan apalagi dalam pembuatan syal yang agak besar bisa memakan waktu 6 bulan, nah dengan waktu yang cukup lama digunakan sehingga harga penjualan pun mereka sesuaikan agar seimbang dengan waktu dan tenaga yang mereka butuhkan. Nilai jual hasil tenunan mereka berbeda-beda untuk syal kecil berkisar antara Rp.35 sampai 50 per helai sedangkan untuk syal yang besar berkisar antara Rp. 100.000 sampai 600.000 per helai. Nah, dalam kegiatan menenun ini tentu saja ada tim yang tertarik melakukan kerjasama dengan mereka seperti tim dari DPRD, karena selain memperkenalkan produk dari masyarakat wisata kerjasama ini juga bertujuan untuk melestarikan budaya dan keterampilan yang mereka miliki secara khusunya masyarakat Ensait Panjang. (Erlanda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *