Hio, Salah Satu Peralatan Sembayang Etnis Tionghoa

Hio atau Dupa merupakan salah satu peralatan yang digunakan untuk bersembayang bagi etnis tionghoa. Hio juga menjadi salah satu simbol kedekatan serta ketaatan manusia kepada pencipta Nya. Hio identik dengan warna merah dan lainnya, warna merah melambangkan kemakmuran, kebahagiaan, dan penghormatan kepada Sang Pencipta.

Serta membakar dupa/hio mangandung makna : Jalan Suci itu berasal dari kesatuan hatiku dan Hatiku dibawa melalui keharuman dupa.

Selain itu dupa juga berfungsi untuk:

a. Menenteramkan pikiran, memudahkan konsentrasi, meditasi. (seperti aroma therapy pada jaman sekarang)

b. Mengusir hawa atau hal-hal yang bersifat jahat.

c. Mengukur waktu : terutama pada jaman dahulu, sebelum ada lonceng atau jam. (seperti pada saat duel di film- film kungfu)

  1. Dupa yang bergagang Hijau,Gunanya khusus untuk bersembahyang di depan jenasah keluarga sendiri atau dalam masa perkabungan.
  1. Dupa yang bergagang Merah,Gunanya untuk bersembahyang pada umumnya. (contoh : ke altar Tian/Tuhan, altar Nabi, Shen Ming (para suci), dan leluhur)
  1. Dupa yang tidak bergagang, berbentuk piramida, bubukan dsb-nya,Gunanya untuk menenteramkan pikiran, mengheningkan cipta, mengusir hawa jahat; dinyalakan pada Swan Lo/tempat dupa tidak sama dengan tempat menancapkan dupa.
  1. Dupa yang berbentuk spiral, seperti obat nyamuk,hanya untuk bau-bauan. Sering ditemui ketika upacara perkabungan.
  2. Dupa besar bergagang panjang, Gunanya khusus untuk upacara sembahyang besar.
  3. Tiang Siu Hio/Chang Shou Xiang, dupa tanpa gagang, panjang lurus, dibakar pada kedua ujungnya. Gunanya untuk bersembahyang kepada Tuhan atau untuk dipasang pada Swan Lo (Xuan Lu). Bisa juga lagi dalam masalah gawat sekali, urgent memohon pertolongan sang Dewa dengan segera.

Adapun makna dari penancapan dupa atau hio bagi masyarakat etnis tionghoa:

Satu hio,satu berarti esa atau tunggal. Ketika seseorang membakar satu Hio ketika beribadah, maka ibadah orang tersebut dikhusukan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dua Hio, dua berarti Yin dan Yang. Membakar dua Hio juga disimbolkan sebagai peribadatan atau doa kepada kedua orang tua.

Tiga Hio, membakar tiga Hio dilambangkan sebagai ibadah untuk alam semesta yang terdiri dari 3 unsur, yaitu bumi, langit, dan manusia.

Empat Hio,dalam kepercayaan masyarakat Hokkian, di bumi ini ada 4 penjuru lautan yang dianggap sebagai saudara. Empat Hio melambangkan 4 penjuru tersebut (Utara, Timur, Selatan, dan Barat) Lima Hio

Lima Hio, dalam kepercayaan orang Tionghoa disimbolkan sebagai 5 elemen dasar kehidupan manusia. 5 elemen tersebut adalah Kayu, Api, Tanah, Logam, dan Air.

Enam Hio, enam dalam bahasa Mandari berarti Liu He yang juga bermakna persatuan dan kedamaian. Seseorang yang membakar enam Hio mungkin saja sembahyang demi persatuan dan kedamaian umat manusia.

Tujuh Hio, tujuh Hio melambangkan 7 rasi bintang dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa. Ketujuh rasi bintang tersebut dapat kita temui pada malam hari. Masyarakat Tionghoa meyakini bahwa Rasi Bintang Biduk yang berbentuk layang dengan ekor memanjang merupakan 7 rasi bintang yang mereka agungkan.

Delapan Hio, delapan Hio merupakan perkembangan dari makna filosofis empat Hio, yaitu melambangkan penjuru dunia. Kedelapan penjuru tersebut adalah Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Laut, Utara, Timur Laut. Doa dengan delapan Hio bermakna doa kepada alam semesta.

Sembilan Hio, orang Tionghoa meyakini bahwa angka 9 merupakan angka tertinggi dan yang paling sempurna. Angka 9 juga melambangkan 9 istana dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa.

Masyarakat Tionghoa meyakini dua unsur utama dalam kehidupan, yaitu Yin dan Yang yang bermakna positif dan negatif. Keduanya bermakna baik, tidak ada yang buruk. Semuanya hanya didasarkan oleh waktu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *